Aku mencintai-Mu , seperti hujan yang dijanjikan langit kepada tanah yang lama gersang, namun yang turun dariku hanyalah gerimis yang malu, jatuh sebentar, lalu hilang sebelum sempat meresap. Aku menyebut cinta seperti kebun menyebut musim, tetapi benih-benih kebenaran disimpan di genggaman, tak pernah aku tanam, tak pernah aku relakan tumbuh di bawah cahaya-Mu. Jika benar aku mencintai, mengapa aku biarkan tanah hatiku retak menunggu hujan yang aku sendiri enggan lepaskan? Aku tahu hujan yang ikhlas tidak memilih bumi, ia jatuh tanpa ragu, meresap diam-diam, lalu menghidupkan apa yang hampir mati. Namun di kebun sunyi itu, aku masih menanam bayang-bayang, menyiramnya dengan dusta, seolah-olah akar-akar itu tidak akan sampai ke pengetahuan-Mu. Lalu apa makna cintaku, jika aku sendiri menjadi musim yang menipu? Hujan tidak pernah benar-benar turun, tanah tetap gersang dan kebun ini, hanya hidup dalam sangkaanku sendiri. Karya Asnan Hamdin Sepanggar