puisi kemanusiaan


Universiti
(secebis nukilan dari renungan)

kaulah menara gading pembawa nikmat bakal birokrat
bourgeois, kapitalis & komprador 
kaulah gubuk buruk pertapaan anak tani, nelayan & proletar
kau membedung manusia pura-pura kau menanam benih kebenaran
kaulah medan perang duniawi dan rohaniah
kau dalam konfliks
kau tidak berdosa
anak-anakmu berbagai ragam
kau perlu mengawasi anak-anakmu mengumpul dosa-dosa

Mahasiswa Menggugat
 (suatu contra)
Dalam perjuangan yang akhir
saat sinaran kemenangan akulah satu-satunya dari tiap 400
kerana pengorbanan D.O. 
asst, manager
eksekutif 
anikaragam 'tuan" 
pantang disebut tigu angka
dalam pengiraan selepas pengurbanan
alfasud
citroen
 volvo 
anikaragam dorongan kapitalis 
suku empat angka keluar negeri ?
ke Baling
bisu!

Aku tidak takut mati
Aku tidak lagi takut terhadap maut 
Sudah pun aku tahu
 Kedinginan dan kegelapan ruang mu
 Yang membawa ke alam hidup

Aku takut kepada kehidupan
Yang bukan hasil kematian
 Suatu kehidupan yang mengkakukan tangan
 Dan merintangi perjalanan kita

Aku takut kepada ketakutan ku 
Lebih lagi takut kepada 
Mereka yang 
Tidak tahu ke mana 
Haluan dan persis berpaut Kepada sesuatu yang dipercaya
i Adalah kehidupan, tetapi kita sedar ia sebenarnya
 Maut menjelma!
Tiap hari aku hidup untuk membunuh maut 
Tiap hari aku mati untuk menanggung hidup 
Dan dalam kematian terhadap maut ini
 Aku mati beratus kali 
Dan seratus kali juga aku bangun Diusang dengan limpahan kasih Kasih yang disuburi dan Dikukuhkan oleh Kesejatian dan ketabahan harapan Rakyat ku

alihbahasa: Nasir

SENANDUNG PELARIAN PALESTIN (1)

(1)
 Dalam pelarian ini kami menatap hari-hari yang kelam kami mendakap hati-hati yang redam kami menunggu janji-janji jadi setia kami memburu mimpi-mimpi jadi nyata iya, nurani kami telah lama tercalar harga diri kami telah lama tercabar.

(ii) Di sini kami dewasa dengan irama dendam dan udara berbara di sini kami terbiasa dengan kejam alam dan rona fatamorgana iya, lihatlah asap dan debu perang melitupi wajah kami yang murung dengarlah dentuman bom dan senapang menutupi ratap kami yang rundung.

(iii) Di tengah deraan ini karni mengasah sumpah di celah siksaan ini kami melimau darah akan kami cari kembali runtuhan pusaka pertiwi akan kami diri kembali robohan kota peribadi iya, suatu waktu kelak suara kami akan gempita dalam sorak

(iv)
Di hari kemenangan itu mentari akan kembali semarak dari daerah ke daerah melati akan kembali semerbak dari rumah ke rumah iya, umat palestin akan pulang menyambung sejarah gemilang.

1983
AZMI YUSOFF.

Comments

Popular posts from this blog

Perjuangan